Archive for August, 2006

masjidmasjid

Sunday, August 20th, 2006
masjidmasjid
(dari catatan pinggir I)
Barangkali
kita masih ingat akan masjid desa tempat kita dibesarkan. Ia tidak
bermenara. Hanya di atas atapnya, agak persis di tengah, terdapat
sebuah ruang berdinding kayu tempat menyerukan bang. Orang naik ke sana
dengan sebuah tangga bambu. Tak ada kubah menggelembung. Tak da
pengeras suara. Arsitektur dan letaknya tak menyolok dan tak ingin
mendamik dada ke sekitar rumah-rumah rakyat yang miskin. Hanya ruang
dalamnya lebih sejuk. Laintainya lebih bersih. Sumurnya lebih dalam,
dan air kulahnuya tak pernah kering.
Ia
bukan karya yang layak dipotret untuk buku sejarah. Mungkin juga ia
merasa tak punya sejarah. Tapi seperti wajah merbotnya yang tua,ia
terus saja di sana. Bila atspnya bocor ia diperbaiki sekedarnya. Bila
menjelang Idul Fitri,ia dikapur secukupnya. Masjid yang dibangun dengan
ongkos murah, dan dipelihara dengan uang sedikit (tapi toh cukup) itu
dengan demikian terbebas dari ketergantungan pada penyumbang-penyumbang
kakap.
Ia juga bisa terus,tanpa minta diperhatikan pejaba-pejabat kakap.
Di
masjid-masjid megah, biasanya bertemu kekuasaan para pembesar agama
dengan pembesar negeri. Kadang pertemuan itu mulia,kadang tidak. Tapi
di masjid desa kita, pertemuan yang mulia dan tak mulia tak pernah
terjadi.
Sebab
ia bukan Masjid Istiqlal yang menyedot begitu banyak uang, dan
menghhimpun banyak dana, sehingga memungkinkan skandal korupsi. Ia juga
bukan masjid di sekitar Baghdad, yang berlampu kristal besar
tergantung-gantung, dengan pintu perak atau pintu emas berukir, dengan
kubah dan menara keemasan atau warna-warni – yang direstorasi dengan
bantuan pemerintah, dan yang ulamanya seakan harus menyebut bantuan itu
kepada tetamu.
Masjid
desa kia juga bukan masjid tempat menyimpan makam orang besar, dalam
kandang yang kukuh dan wangi yang dikitari taburan mata uang penderma.
Is buksn gemerlap, sementara orang di luarnya hidup zuhud atau papa.
Di
Masjid Sultan Hassan di kairo, yang sering disebut sebagai teladan
arsitektur islam yang elok, seorang arsitekk Mesir sendiri pernah
berkata : ”Bila saya berdiri di masjid Sultan hassan, di manakah tempat
saya?”. ia mengaku betapa monumentalnya bangunan itu, tapi ia mencatat
bahwa masjid itu dibangun untuk lambang kekuasaan dan kewibawaan Sultan
dan pemerintahannya – justru ketika pemikiran dan peradaban Islam di
titik terendah dan sangat statis….
Di
saat-saat kita merasa minder, kita memang sering berlebihan berlagak.
Bahwa masjid desa kita tak merasa perlu berlagak, mungkin karena ia tak
berdiri untuk kasih unjuk apapun selain sebagai tempat ibadah. Ia
merupakan cerminan dari masyarakat yang merasa tak perlu pamer karena
ia intim dengan sekitar.
Banguan
memang mencerminkan sikap orang yang mendirikannya. ”lingkungan luar
yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri tak lebih dari satu
cerminan keadaan batinnya,” tulis Seyyed Hossein Nasr dalam makalahnya
yang berjudul panjang, The contemporary and The Architechtural Transformation of the Urban Environment of the islamic World.
Prof.
Nasr dengan sedih berbicara tentang krisis yang terjadi dalam
pembangunan kota-kota serta bangunan di banyak negeri Islam dewasa ini.
Ia berbicara tentang ”hilangnya kerendahan hati dan sikap bermartabat”
yang pernah ada dalam arsitektur tradisional.
Dengan
kata lain, ia juga berbicara tentang krisis keadaan batin. Tapi
benarkah sekularisasi penyebabnya? Atau penyempitan agama, hingga hanya
mencakup hukum dan peraturan tingkah laku, dan melalaikan compassion
dan tumpul rasa terhadap sekitar? Ataukah karena orang islam tak lagi
rendah hati tapi rendah diri? Ataukah karena betapapun juga kota dan
orang islam tak bisa lepas dari perkembanganyang seringkali buruk dan
tak teratur di zaman ini?
Barangkali kira ingat akan masjid desa tempat kita dibesarkan ” kebanyakan dari kita sudah tak mengunjunginya lagi.