Pronocitro dan Pragmatisme*
Friday, August 24th, 2007Pronocitro dan Pragmatisme*
Pronocitro jatuh cinta dan mati bersama
roro mendhut, toh mereka tidak bertanya, "buat apa".
Layonsari mengikuti Jayaprana dan akhir mereka fatal, tapi tak pernah
ragu, "apa gunanya". Kita sering tepekur oleh kisah-kisah
tentang "passion" yang begitu nekat, tapi begitu indah dan
tidak palsu: mereka ternyata bisa memberi harga pada sesuatu yang
sia-sia.
Kata orang, karenadengan itu kita
memperoleh semacam peneguhan kembali bahwa hidup manusia tidak
seluruhnya berupa perhitungan laba-rugi. Manusia tak sepanjang waktu
berjualan "toko kelontong". hubungan manusia tidak
sepenuhnya mengikuti petunjuk Dale Carnegie tentang "How to win
friends and influence people", tentang siasat mengambil hati
orang lain dan memperoleh hasil besar karena senyum di bibir. Kita
tak bisa mengkomputasikan cinta, hati nurani, desakan ingin
kebenaran, belas kasih, uneg-uneg, dalam analisa "menguntungkan"
atau "tidak".
Tak mengherankan bila pada suatu hari
seorang ayah yang melihat anaknya "menari pelan sendiri diantara
pohon-pohon", jadi tersentak: kita harus menyiasati kembali apa
sebenarnya yang kita maksudkan dengan "pragmatisme". Anak
yang menari itu tak ingin mencapai suatu target. Dewasa ini nampaknya
"pragmatisme" telah agak mencong sehingga satu-satunya
ukuran tentang hal ihwal ialah hasil perbuatan, terpenuhinya target,
lalu diam.
Pronocitro jatuh cinta pada roro
mendhut dan menikmati cinta itu tanpa melihat apa nanti hasilnya. Ada
kekonyolan di sana, tapi ada kejujuran. Si perjaka tidak bilang:
"kita harus pragmatis, neng". Ucapan "Kita harus
pragmatis" itu seakan-akan hanya berarti "kita harus
menghasilkan sesuatu".
"Kita harus pragmatis"
akhirnya terdengar seperti "kita harus bersedia bermain curang".
Macbeth, dalam sandiwara shakespeare,
menjelang akhir, berbicara sendiri dkepada gelap:
"Hidup hanya wayang yang
berjalan
lakon yang meregang untuk satu
malam
cerita yang dikisahkan oleh si
bodoh
penuh riuh serta resah, yang tak
berarti apa-apa"
Itu terjadi ketika ia mendengar
istrinya mati gila oleh rasa dosa. Itu terjadi setelah semua yang ia
tindas ternyata bangkit dan semua yang ia bunuh ternyata mengacungkan
denda. Filsafatnya, akhirnya, adalah filsafat yang seram. Macbeth
menjadi seorang nihilis. Ia merasa tak ada yang bisa dinilai dari
hidupnya, tak ada yang bisa dikutuk atau dipuji dari perbuatannya,
karena dasar untuk menilai itu tak diakui. Hidup "tak berarti
apa-apa". Kekejaman boleh, toh kelak itu akan dilupakan.
Dalam arti tertentu Macbeth seorang
"pragmatis". Ia sebenarnya berkata bahwa pada mulanya
adalah tindakan – dan selebihnya perkara belakang.
Ia barangkali hanya seorang bingung
yang tak hendak dibawa kebingungan, seperti orang zaman ini: ketika
orang meragukan dogma tentang kebenaran mutlak, ketika banyak
ideologi dan ajaran moral ternyata cuma nisbi. Maklumlah, inilah
zaman ketika William James menawarkan pragmatisme dengan cukup
meyakinkan sebagai "udara terbuka" yang menghadapi "dogma,
prestasi tentang adanya kata akhir dalam hal kebenaran".
Untunglah: dalam kemyataan, pilihan
tidak hanya terletak antara dogmatisme dan nihilisme, antara kebekuan
kaidah dengan tiadanya nilai-nilai sama sekali. Pragmatisme pun punya
wajah lain: jika kita tidak tahu apa sebenarnya yang disebut "baik
sempurna", kita pun masih bisa menghargai proses ke arah
penyempurnaan. proses terus-menerus itulah mungkin tujuan hidup.
Paling tidak, itulah kutipan dari Dewey. Pronocitro jatuh cinta pada
roro mendhut, tanpa ragu "buat apa" dan tak bertanya
tentang akhir cerita…