Archive for March, 2008

desaku, in memorian

Thursday, March 27th, 2008

Kemaren, aq kembali ke kampung halaman, pulang ke desa tempat asalku…aq ber-"rendezvous" dengan sudut2 desa dimana aq pernah berceloteh riang..berinteraksi dengan syahdunya desa…ah, tapi hembusan apa ini?terasa desaku tak sesyahdu dulu..tak semenenangkan dulu..ada sesuatu yang berubah di sini..bukan, bukan dari sudut pembangunan, bukan dari sudut kesejahteraan sosial, meskipun orang kaya bertambah, tapi orang miskin toh tak berkurang, meskipun kesempatan bertambah, tapi toh kesempitan tetap tak berkurang..
tapi ada yang berubah di sini..berubah..keramahan itu, kesahajaan itu, ketenangan itu…ah, mereka telah ikut berubah menjadi generasi sinetron, gosip, dan generasi MTV rupanya..mereka turut tersentuh modernisme dan globalisasi katanya..
sesaat aq tersenyum, masih kutemukan sisa-sisa kesyahduan dan kesakralan desaku pada guratan-guratan tua yang terukir pada kakek2 di sudut masjid desaku yang perlahan juga memudar..tapi masih sanggupkah bertahan??kulihat, perlahan semuanya mulai redup dan menghilang..tergantikan oleh ketidakacuhan..kerinduanku akan desaku yang dulu mengirisku…ah, desaku, kau telah kehilangan kesyahduaanmu…

“the eloquency of silence”

Wednesday, March 26th, 2008

ah, ga..aq ga akan membahas gramatika akan diam dan kebisuan dari sudut pandang illich yang begitu rumit..ga.. "diam", ah..bisa beribu arti yang bisa ditafsirkan..bisa berarti pasrah dan menyerah, bisa berarti "mengamini", bisa berarti ketidakpedulian, bahkan bisa juga berarti marah…dan aq, telah memilih untuk "diam" kepadamu…tapi, "diam"-ku padamu, aq ga ingin mengartikan apapun dari itu…disitu, mungkin terukir guratan-guratan tua akan gejolak perasaanku, dan mungkin tertidur pengertian-pengertian yang entah kau pahami atau tidak…maka..akan aq biarkan "kediamanku" sebagai sebuah mantra bisu yang kosong..tak perlu untuk diartikan..tak perlu untuk ditafsirkan..biarlah dia menghembus bebas tanpa membebani siapapun..